MATAJAMBI.COM - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang makin pesat ternyata membawa dampak baru bagi industri smartphone. Lonjakan penggunaan AI generatif kini membuat harga komponen penting, terutama memori atau RAM, ikut naik. Kondisi ini diprediksi akan membuat harga ponsel meningkat pada tahun 2026.
Permintaan besar datang dari pusat data (data center) yang digunakan untuk menjalankan teknologi AI. Pabrik chip dunia pun lebih banyak memproduksi memori untuk kebutuhan tersebut. Akibatnya, pasokan RAM untuk perangkat lain, termasuk smartphone, menjadi lebih terbatas dan harganya ikut terdorong naik.
Meski ponsel menggunakan jenis RAM yang berbeda dengan komputer, kenaikan harga tetap tak terhindarkan. Para analis menyebut kondisi ini bukan masalah sementara, melainkan perubahan besar dalam industri chip global.
Selama ini, produsen ponsel masih bisa menahan kenaikan biaya produksi. Namun, mulai 2026, biaya tersebut diperkirakan akan dibebankan langsung ke konsumen. Ponsel murah diprediksi menjadi yang paling terdampak karena biaya RAM menyumbang porsi besar dari harga produksinya.
Menurut lembaga riset IDC, harga ponsel kelas bawah bisa naik sekitar 5 hingga 10 persen. Secara rata-rata, harga smartphone secara global juga diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 2 persen tahun depan.
Tak hanya harga, spesifikasi ponsel juga berpotensi berubah. Beberapa ponsel murah dan kelas menengah kemungkinan kembali menggunakan RAM lebih kecil, seperti 4GB, demi menekan harga jual. Padahal, kapasitas RAM besar dibutuhkan untuk menjalankan fitur AI langsung di perangkat.
Sementara itu, ponsel kelas atas juga diperkirakan tidak lagi mengejar RAM super besar. Produsen disebut akan membatasi RAM di kisaran 12GB hingga 16GB agar harga tidak melonjak terlalu tinggi.
Jika kenaikan harga ini terjadi, konsumen diprediksi akan berpikir dua kali untuk mengganti ponsel lama. Tahun 2026 pun berpotensi menjadi masa penyesuaian, baik bagi produsen maupun pengguna smartphone.