MATAJAMBI.COM - Puasa sebelum menjalani operasi bukan sekadar aturan formal dari rumah sakit, melainkan langkah medis penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
Anjuran ini diterapkan untuk mencegah berbagai risiko serius yang dapat terjadi selama tindakan bedah, terutama saat pasien berada di bawah pengaruh anestesi.
Sebelum masuk ruang operasi, pasien biasanya diminta menjalani serangkaian persiapan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, konsultasi dengan dokter, hingga kesiapan fisik dan mental.
Salah satu persiapan utama yang tidak boleh diabaikan adalah puasa dalam jangka waktu tertentu sebelum operasi dilakukan. Meski kerap menimbulkan pertanyaan, puasa ini merupakan bagian krusial dari prosedur medis yang wajib dipatuhi.
Secara medis, puasa dilakukan agar kondisi lambung berada dalam keadaan kosong saat anestesi diberikan. Ketika pasien dibius, refleks tubuh seperti batuk dan menelan akan menurun drastis.
Jika masih terdapat makanan atau cairan di dalam lambung, risiko muntah meningkat dan isi lambung berpotensi masuk ke saluran pernapasan. Kondisi ini dikenal sebagai aspirasi dan dapat memicu pneumonia, gangguan pernapasan berat, bahkan mengancam nyawa pasien.
Selain itu, lambung yang masih terisi makanan dapat meningkatkan produksi asam lambung. Hal ini berisiko menimbulkan iritasi saluran pencernaan, terutama pada pasien yang memiliki riwayat penyakit lambung.Asam lambung yang naik saat anestesi juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman serta memperbesar kemungkinan komplikasi selama dan setelah operasi.
Puasa sebelum operasi juga berperan dalam membantu kelancaran jalannya prosedur bedah. Dengan kondisi lambung kosong, tubuh pasien cenderung lebih stabil sehingga tim medis dapat bekerja secara optimal tanpa terganggu oleh keluhan mual atau muntah mendadak yang bisa menghambat tindakan medis.
Jika aturan puasa diabaikan, risiko yang dihadapi pasien bisa jauh lebih besar. Makanan atau cairan yang masuk ke paru-paru saat pasien dibius dapat menyebabkan infeksi serius hingga gagal napas.
Selain itu, operasi bisa terpaksa ditunda atau dibatalkan oleh dokter demi mencegah kemungkinan terburuk yang membahayakan keselamatan pasien.
Umumnya, pasien dianjurkan untuk tidak mengonsumsi makanan padat selama enam hingga delapan jam sebelum operasi, serta menghindari minum cairan beberapa jam sebelum tindakan.