ADHD juga lebih sering terdeteksi sejak masa kanak-kanak, terutama ketika anak mulai mengalami kesulitan belajar di sekolah atau sulit duduk diam.Namun pada perempuan, gejala ADHD sering kali lebih halus sehingga banyak yang baru terdiagnosis saat dewasa.
Sementara gangguan kecemasan lebih sering muncul pada remaja, dewasa muda, hingga orang dewasa.
Perbedaan lain terletak pada pengobatannya.
Penderita ADHD biasanya mendapatkan terapi perilaku dan obat-obatan tertentu untuk membantu meningkatkan fokus serta kontrol impuls.
Sedangkan penderita kecemasan lebih sering ditangani dengan terapi psikologis dan obat anti-kecemasan atau antidepresan.
Menariknya, beberapa obat ADHD jenis stimulan diketahui dapat memperburuk gejala kecemasan pada sebagian orang sehingga penanganan keduanya harus dilakukan secara hati-hati oleh tenaga medis profesional.Selain pengobatan, perubahan gaya hidup juga sangat berpengaruh terhadap perbaikan gejala ADHD maupun kecemasan.
Para ahli menyarankan penderita kedua kondisi ini menjaga pola tidur yang baik, mengonsumsi makanan bergizi, memiliki rutinitas harian yang teratur, rutin berolahraga, dan mempelajari teknik pengelolaan stres.
Aktivitas fisik diketahui membantu mengurangi kecemasan sekaligus meningkatkan fokus dan konsentrasi.
Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) juga menjadi salah satu metode yang banyak digunakan untuk membantu penderita ADHD maupun kecemasan.
Terapi ini membantu seseorang memahami pola pikir dan perilaku yang tidak sehat lalu melatih cara mengatasinya secara lebih positif.