MATAJAMBI.COM - Banyak orang yakin bahwa mereka bukan tipe yang egois. Kata egois sendiri sering diasosiasikan dengan sifat sombong, cuek, dan tidak peduli pada orang lain, sehingga hampir tidak ada yang mau mengakuinya.
Padahal dalam kehidupan sehari hari, egoisme sering muncul bukan dalam bentuk yang ekstrem, melainkan lewat kebiasaan kecil yang terlihat wajar dan bahkan sering dianggap normal.
Dalam dunia psikologi, egoisme modern justru sering bersifat tidak disadari. Seseorang bisa terlihat ramah, sopan, dan bahkan suka menolong, tetapi tetap menempatkan dirinya sebagai pusat dari hampir semua keputusan. Polanya dapat dikenali dari cara mereka berbicara, membuat pilihan, hingga merespons perasaan orang lain.
Menurut para psikolog, perilaku ini muncul karena otak manusia secara alami lebih peka terhadap kebutuhan dan ketidaknyamanan diri sendiri dibandingkan orang lain.
Tanpa latihan empati dan kesadaran sosial, seseorang akan cenderung memprioritaskan kepentingannya sendiri meski tidak bermaksud menyakiti siapa pun.
Salah satu tanda paling umum dari egoisme yang tidak disadari adalah cara seseorang menguasai percakapan. Mereka tidak selalu berbicara paling keras, tetapi hampir selalu berhasil mengalihkan topik kembali ke dirinya.
Ketika orang lain bercerita tentang masalah atau keberhasilan, respons yang muncul sering kali adalah kisah mereka sendiri. Tanpa disadari, percakapan berubah menjadi monolog panjang tentang kehidupan mereka.Perilaku ini berkaitan dengan egosentrisme dewasa, yaitu kecenderungan melihat dunia hanya dari sudut pandang sendiri. Akibatnya, lawan bicara sering merasa tidak benar benar didengar, seolah ceritanya hanya menjadi latar belakang bagi kisah orang lain.
Tanda lain yang sering muncul adalah keputusan yang dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Membatalkan janji di menit terakhir, mengubah rencana bersama, atau memilih sesuatu hanya berdasarkan kenyamanan pribadi sering dianggap hal kecil. Padahal, bagi orang lain, tindakan ini bisa terasa tidak dihargai.
Dalam psikologi, ini terkait dengan kemampuan theory of mind, yaitu kemampuan memahami bahwa orang lain memiliki pikiran, perasaan, dan prioritas yang sama pentingnya. Ketika kemampuan ini kurang terlatih, seseorang akan memperlakukan kebutuhan orang lain seolah bisa ditunda, sementara kebutuhannya sendiri terasa mendesak.
Bentuk egoisme yang paling sulit dikenali justru muncul dalam balutan kebaikan. Ada orang yang terlihat sangat suka membantu, tetapi sebenarnya mengharapkan pujian, pengakuan, atau balasan emosional. Bantuan menjadi alat untuk memperkuat citra diri, bukan murni karena kepedulian.
Para ahli menyebut ini sebagai giving for validation, yaitu memberi demi mendapatkan pengakuan. Bagi penerima, bantuan seperti ini sering terasa melelahkan karena selalu ada beban psikologis yang menyertainya.