“Pertanyaannya, Indonesia akan memihak ke mana? Ke Iran atau ke Israel?” tuturnya.Ia bahkan memprediksi potensi perpecahan opini di dalam negeri.
“Kita bisa saja saling berdebat sendiri. Separuh mendukung Iran, separuh mendukung Israel, atau bahkan tidak memihak karena tidak memahami persoalannya,” ucapnya.
Tidak hanya membahas konflik dalam konteks militer, Cak Nun juga menyinggung dampak psikologis yang menurutnya bisa menjalar ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk provokasi, baik yang datang dari luar negeri maupun dari dalam.
“Israel juga melakukan provokasi besar di Arab Saudi dengan menguatkan paham-paham tertentu yang kemudian berpengaruh pada Masjid Nabawi dan Masjidil Haram,” ungkapnya.
Menurutnya, strategi tersebut memiliki tujuan tertentu.
“Tujuannya sederhana, yaitu memutus ikatan batin umat Islam dengan Rasulullah SAW,” paparnya.
Cak Nun menilai bahwa dampak psikologis semacam itu bukan hal sepele dan sudah mulai terlihat.
“Inti dari strategi Amerika dan Israel adalah memutus hubungan cinta antara umat dengan Rasulullah,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa bentuk provokasi yang terjadi tidak hanya berupa konflik fisik, tetapi juga menyasar sisi psikologi dan spiritual.
“Provokasinya bukan hanya adu kekuatan fisik, tetapi juga menyentuh ranah batin dan mental. Ini persoalan yang sangat serius,” tandasnya.