Metronews

Pemkab Merangin Mulai Jual Produksi Jagungnya ke Bulog, Panen Perdana Capai 5,6 Ton

0

0

matajambi |

Jumat, 24 Apr 2026 19:30 WIB

Reporter : Adri

Editor : Adri

Panen Jagung Merangin Mulai Dipasarkan, Hasil Perdana Sejak Jumat 24 April Diserap Bulog - (IST)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

BANGKO, MATAJAMBI.COM - Program gerakan tanam jagung serentak di Kabupaten Merangin mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Pemerintah Kabupaten Merangin melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura kini telah mulai menjual hasil panen jagung ke Bulog Merangin sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.

Bupati Merangin, H M Syukur, mengungkapkan bahwa hingga Jumat, 24 April, hasil panen jagung pipilan yang berhasil dipasarkan mencapai 5,6 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,6 ton diserap oleh Bulog Merangin, sementara dua ton lainnya dijual langsung kepada masyarakat, ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa jumlah tersebut baru merupakan sebagian kecil dari total hasil panen yang ada di Balai Benih Unggul Margoyoso. Menurutnya, panen tersebut baru berasal dari sekitar empat hektar lahan, sementara total luas lahan yang tersedia mencapai 27 hektar, ujarnya.

“Jadi hasil 5,6 ton ini masih sebagian kecil saja dari potensi yang ada, karena lahan yang sudah dipanen baru sekitar empat hektar,” jelas H M Syukur usai kegiatan Subuh Keliling di Masjid Baiturrohim, Desa Titian Teras, Kecamatan Batang Masumai, Jumat (24/4), katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa hasil panen jagung tidak hanya berasal dari Margoyoso, tetapi juga akan menyusul dari wilayah lain seperti Balai Benih Unggul Sungai Manau. Selain itu, pemerintah daerah juga tengah mempersiapkan pengembangan lahan di kawasan Lembah Masurai dan Jangkat untuk meningkatkan produksi jagung secara bertahap, tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Merangin, Mujiburrahman, menjelaskan bahwa panen perdana ini berasal dari lahan bekas perkebunan sawit dan karet yang sebelumnya memiliki kondisi tanah cukup keras. Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil panen yang belum maksimal, jelasnya.

“Kalau dilihat dari kondisi lahannya, ini masih tergolong awal karena tanah eks sawit dan karet belum sepenuhnya subur, jadi hasilnya belum maksimal,” ujar Mujiburrahman.

Ia juga menambahkan bahwa kendala lain yang dihadapi di lapangan adalah sistem drainase yang belum memadai serta kondisi lahan yang pernah terdampak banjir. Selain itu, proses penanaman jagung dilakukan secara bertahap, sehingga masa panen tidak berlangsung serentak di seluruh area, lanjutnya.

Di sisi lain, pihaknya juga tengah melakukan proses pengeringan jagung sebelum dipasarkan. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan standar Bulog yang mensyaratkan kadar air jagung harus berada di bawah 14 persen agar dapat diterima, ungkapnya.

“Untuk bibit yang digunakan, kita memakai varietas unggul Bisi Dua yang diharapkan mampu memberikan hasil yang baik ke depannya,” tambahnya.

Terkait harga, Mujiburrahman menyebutkan bahwa Bulog membeli jagung dari petani dengan harga Rp6.400 per kilogram. Harga tersebut dinilai cukup stabil dan memberikan peluang keuntungan bagi petani lokal, tutupnya.

Dengan masih luasnya lahan yang belum dipanen serta pengembangan di beberapa wilayah lain, produksi jagung di Kabupaten Merangin diperkirakan akan terus meningkat. Pemerintah daerah berharap program ini dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus menjadikan Merangin sebagai daerah penghasil jagung yang kompetitif di masa depan.

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER