MATAJAMBI.COM - Migrain selama ini kerap dianggap hanya sebagai sakit kepala berat yang datang berulang. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kondisi tersebut kemungkinan memiliki hubungan dengan perubahan jangka panjang pada otak.
Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Brain Communications menemukan adanya kaitan antara migrain dan penuaan otak yang lebih cepat. Temuan ini menambah perhatian terhadap migrain, terutama karena kondisi tersebut dialami puluhan juta orang di berbagai negara.
Migrain bukan sekadar nyeri kepala biasa. Pada banyak pasien, serangan migrain dapat disertai mual, sensitif terhadap cahaya, sensitif terhadap suara, gangguan penglihatan, hingga penurunan kemampuan beraktivitas. Jika terjadi berulang dan tidak terkendali, migrain bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan.
Dalam penelitian terbaru tersebut, para ilmuwan menilai kesenjangan usia otak pada pasien migrain. Kesenjangan usia otak merupakan perbedaan antara usia biologis otak seseorang dan usia kronologis berdasarkan tanggal lahir.
Semakin besar kesenjangan usia otak, semakin besar pula kemungkinan otak menunjukkan tanda-tanda penuaan lebih cepat. Dalam berbagai penelitian sebelumnya, kondisi ini juga pernah dikaitkan dengan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Studi tersebut melibatkan 110 pasien migrain dan 70 peserta tanpa migrain di Taiwan. Para peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk menganalisis lebih dari 400 wilayah otak. Data tersebut kemudian diproses menggunakan model komputer untuk memperkirakan usia otak masing-masing peserta.
Hasilnya, pasien migrain memiliki kesenjangan usia otak sekitar 4,24 tahun lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa migrain. Pasien dengan migrain kronis, yaitu mereka yang mengalami sakit kepala 15 hari atau lebih dalam sebulan, menunjukkan kesenjangan usia otak yang paling besar.Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada 2023 yang juga menunjukkan bahwa pasien migrain kronis cenderung memiliki kesenjangan usia otak lebih besar dibandingkan kelompok lain.
Dari 442 wilayah otak yang dianalisis, sebanyak 66 wilayah menunjukkan tanda penuaan yang lebih cepat. Wilayah tersebut mencakup korteks prefrontal, korteks cingulate, korteks parietal, korteks temporal, dan amigdala.
Bagian-bagian otak tersebut berperan penting dalam pemrosesan rasa sakit, pengaturan emosi, serta fungsi kognitif. Karena itu, temuan ini dianggap memperkuat dugaan bahwa migrain tidak hanya melibatkan rasa nyeri, tetapi juga berkaitan dengan sistem saraf yang lebih luas.
Ahli saraf bersertifikat sekaligus Chief Medical Officer Lin Health, Eric Anderson, MD, PhD, mengatakan wilayah otak yang ditemukan dalam studi ini memang sudah lama dianggap terlibat dalam mekanisme migrain.
“Ahli saraf sudah berpikir daerah-daerah ini adalah pusat migrain, yang memberikan studi ini lebih kredibilitas,” kata Anderson.