TANJAB TIMUR, MATAJAMBI.COM – Insiden kekerasan yang melibatkan sejumlah siswa dan seorang guru di SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak menjadi perhatian publik setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial, Rabu 14 Januari 2026.
Peristiwa tersebut terjadi sehari sebelumnya, Selasa 13 Januari 2026 sekitar pukul 12.00 WIB, dan langsung mendapat penanganan dari Polres Tanjab Timur melalui Polsek Berbak.
Kapolres Tanjab Timur, AKBP Ade Chandra, membenarkan bahwa pihaknya telah turun tangan untuk meredam konflik yang melibatkan oknum guru berinisial AS dan sejumlah siswa. “Peristiwa itu sudah ditangani oleh Polsek Berbak,” ujar AKBP Ade Chandra saat dikonfirmasi.
Berdasarkan hasil penelusuran kepolisian, kericuhan bermula dari ketegangan antara guru dan siswa di dalam lingkungan sekolah.
Insiden dipicu saat seorang siswa memanggil gurunya dengan kata yang dinilai tidak sopan, sehingga berujung pada tamparan dari guru kepada siswa tersebut.
Situasi kemudian memanas ketika para siswa yang merasa tidak terima mencoba menyelesaikan masalah di ruang kantor.
Namun pertemuan itu justru tidak berjalan kondusif. Siswa yang ditampar akhirnya mengajak teman-temannya untuk melampiaskan emosi, hingga terjadilah pengeroyokan terhadap guru AS.Dalam kondisi tertekan, guru tersebut sempat berusaha membela diri dengan mengambil sebilah arit dari gudang dan mengacungkannya ke arah siswa. Beruntung, insiden ini tidak sampai menimbulkan korban serius.
Pihak sekolah langsung menghubungi Polsek Berbak, yang kemudian mendatangi lokasi kejadian dan mengamankan semua pihak terkait ke kantor polisi.
Di saat yang bersamaan, beberapa rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan bagaimana guru tersebut dikepung dan dipukuli oleh sejumlah siswa pria. Dalam video lain, terlihat pula guru tersebut sempat melakukan perlawanan dan mengejar beberapa siswa hingga ke halaman sekolah.
Beberapa guru lain akhirnya turun tangan untuk melerai dan membawa oknum guru tersebut ke salah satu ruangan agar situasi tidak semakin memburuk.
Selain faktor pemanggilan tidak sopan, beredar pula informasi bahwa ucapan guru yang dianggap menyinggung dan menghina orang tua siswa ikut memicu ledakan emosi di kalangan murid.