MATAJAMBI.COM - Kuku yang mudah patah, terkelupas, atau terasa tipis sering kali dianggap sebagai persoalan sepele yang hanya berkaitan dengan penampilan.
Padahal, kondisi kuku rapuh dapat mencerminkan kebiasaan sehari-hari yang kurang tepat, bahkan dalam beberapa kasus menjadi petunjuk awal adanya gangguan kesehatan tertentu di dalam tubuh.
Dalam dunia medis, kuku dipandang sebagai bagian tubuh yang sensitif terhadap perubahan kondisi fisik. Pertumbuhan kuku dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari nutrisi, sirkulasi darah, hormon, hingga kesehatan kulit di sekitarnya. Ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan, kuku kerap menjadi salah satu bagian pertama yang menunjukkan perubahan.
Salah satu pemicu paling umum kuku rapuh adalah paparan air dan bahan kimia yang berlebihan. Aktivitas sederhana seperti mencuci tangan terlalu sering, mencuci pakaian, atau membersihkan rumah tanpa perlindungan dapat menghilangkan minyak alami kuku.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kuku kehilangan kelembapannya, menjadi kering, dan akhirnya mudah retak atau patah.
Selain faktor luar, kondisi kuku juga sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Tubuh membutuhkan protein, zat besi, biotin, serta vitamin tertentu untuk membentuk keratin, yaitu bahan utama penyusun kuku.
Ketika asupan nutrisi tersebut tidak terpenuhi, kuku cenderung tumbuh lebih lambat, tampak tipis, dan kehilangan kekuatannya. Pada sebagian orang, kuku rapuh bahkan muncul bersamaan dengan keluhan lain seperti rambut rontok atau tubuh mudah lelah.Kebiasaan tanpa disadari juga dapat memperparah kondisi kuku. Menggigit kuku saat stres, mengelupas kutikula, atau terlalu sering mengganti cat kuku dapat merusak lapisan pelindung alami kuku. Kutikula sebenarnya berfungsi sebagai penghalang masuknya bakteri dan jamur. Jika bagian ini rusak, kuku menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan kerusakan.
Seiring bertambahnya usia, perubahan alami tubuh juga berperan dalam munculnya kuku rapuh. Proses regenerasi sel melambat dan kemampuan tubuh mempertahankan kelembapan berkurang. Akibatnya, kuku pada usia lanjut sering kali tumbuh lebih lambat, tampak kusam, dan mudah terbelah meski tanpa benturan keras.
Menariknya, kuku rapuh juga dapat menjadi tanda kondisi medis tertentu. Infeksi jamur pada kuku, misalnya, dapat membuat kuku menebal, berubah warna, dan rapuh dari dalam.
Selain itu, gangguan seperti anemia, masalah kelenjar tiroid, hingga penyakit kulit tertentu dapat memengaruhi struktur kuku. Bila kuku rapuh disertai perubahan warna mencolok, nyeri, pembengkakan, atau bentuk kuku yang tidak normal, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
Untuk menjaga kuku tetap kuat, perawatan tidak hanya dilakukan dari luar. Menjaga kelembapan kuku dengan minyak alami atau krim khusus kuku dapat membantu memperbaiki lapisan pelindungnya.