MATAJAMBI.COM - Memasuki musim semi dan musim panas 2026, semakin banyak masyarakat mulai memperhatikan kembali kondisi ruang terbuka di sekitar rumah mereka. Taman, halaman, balkon, hingga teras kini tidak lagi sekadar pelengkap hunian, tetapi menjadi ruang hidup yang mendukung kesehatan, ketenangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Para pakar hortikultura menilai bahwa tren berkebun tahun ini bergerak ke arah yang lebih alami, ramah lingkungan, serta berorientasi pada kebutuhan keluarga. Selain mempercantik rumah, taman juga diharapkan mampu menghadirkan manfaat ekologis dan sumber pangan sehat.
Menurut Andrew Bunting dari Pennsylvania Horticultural Society dan Rebecca Sears dari Ferry-Morse, perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi cara orang membangun dan merawat kebun mereka. Mulai dari pemilihan tanaman hingga metode perawatan, semuanya kini lebih mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Berikut sejumlah tren taman 2026 yang diprediksi akan semakin populer di berbagai daerah.
Salah satu perubahan paling mencolok dalam dunia berkebun adalah berkurangnya taman yang terlalu rapi dan serba simetris. Pada 2026, banyak tukang kebun justru memilih tampilan yang lebih bebas, natural, dan terkesan “liar”.
Konsep taman bunga liar menjadi favorit karena mampu menciptakan suasana alami sekaligus mendukung keanekaragaman hayati. Tanaman berbunga liar menyediakan habitat bagi lebah, kupu-kupu, dan serangga penyerbuk lainnya yang sangat penting bagi ekosistem.
Rebecca Sears menjelaskan bahwa taman seperti ini juga mengurangi beban perawatan. Pemilik rumah tidak perlu terlalu sering memangkas, memupuk, atau mengatur pola tanam secara ketat. Cukup memilih benih yang sesuai dengan iklim setempat, menyebarkannya, lalu membiarkan alam bekerja.Selain ramah lingkungan, taman bunga liar juga dinilai lebih hemat biaya karena tidak membutuhkan perawatan intensif dan bahan tambahan yang mahal.
Kesadaran terhadap isu lingkungan semakin memengaruhi dunia pertamanan. Pada 2026, tren berkebun berkelanjutan diperkirakan terus meningkat.
Andrew Bunting menyebutkan bahwa banyak orang mulai mengganti peralatan berbahan bakar fosil dengan perangkat bertenaga baterai yang lebih ramah lingkungan. Mesin pemotong rumput listrik dan blower daun tanpa emisi kini semakin diminati.
Selain itu, metode pengelolaan limbah alami juga semakin populer. Daun kering tidak lagi langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai mulsa untuk menjaga kelembapan tanah dan melindungi mikroorganisme.
Penanaman tanaman asli daerah juga menjadi fokus utama. Tanaman lokal lebih tahan terhadap cuaca setempat, membutuhkan air lebih sedikit, dan mendukung populasi penyerbuk alami.