Lifestyle

Overthinking Diam-Diam Bisa Merusak Mental, Ini Tanda dan Cara Menghentikannya

0

0

matajambi |

Jumat, 15 Mei 2026 08:24 WIB

Reporter : Adri

Editor : Adri

Overthinking Diam-Diam Bisa Merusak Mental, Ini Tanda dan Cara Menghentikannya - (FREEFIK)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

MATAJAMBI.COM - Banyak orang pernah mengalami situasi ketika pikiran negatif terus berputar di kepala tanpa henti. Memikirkan kesalahan masa lalu, merasa cemas terhadap penilaian orang lain, hingga terus-menerus mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi merupakan tanda dari pola pikir berulang atau rumination.

Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal jika dibiarkan terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan mental, emosional, bahkan kesehatan fisik seseorang. Rumination membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pikiran negatif yang sulit dihentikan dan perlahan menguras energi serta kebahagiaan hidup.

Para ahli kesehatan mental menyebut rumination sebagai pola berpikir obsesif dan berulang yang membuat seseorang terus fokus pada masalah, rasa takut, atau pengalaman negatif tanpa menemukan solusi nyata.

Rumination sering muncul bersamaan dengan gangguan kecemasan dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Pikiran yang berulang-ulang ini dapat membuat seseorang merasa terjebak dalam kecemasan, ketakutan, hingga rasa bersalah yang sulit hilang.

Baca Juga:

Sering Dilakukan di Rumah! Cara Menyimpan Makanan Ini Ternyata Salah Besar

Tidak hanya memengaruhi kondisi emosional, kebiasaan overthinking juga dapat memicu berbagai masalah lain seperti stres kronis, gangguan tidur, menurunnya konsentrasi, hingga peradangan dalam tubuh akibat tekanan mental berkepanjangan.

Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan mulai menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa tidak nyaman dengan pikirannya sendiri. Akibatnya muncul rasa kesepian, mudah tersinggung, marah, hingga paranoia berlebihan.

Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi depresi, perilaku impulsif, bahkan meningkatkan risiko penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan sebagai pelarian emosional.

Tidak semua rasa khawatir termasuk rumination. Kekhawatiran biasa umumnya lebih fokus pada masa depan, misalnya memikirkan apakah pekerjaan akan berjalan lancar atau apakah keluarga dalam keadaan aman.

Sedangkan rumination lebih banyak berfokus pada masa lalu atau situasi yang sedang terjadi saat ini. Seseorang bisa terus mengulang percakapan, kesalahan, atau kejadian tertentu di dalam pikirannya sambil mempertanyakan berbagai hal tanpa henti.

Baca Juga:

Jangan Kaget! Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Berhenti Minum Kopi Mendadak

Misalnya terus berpikir, “Kenapa saya mengatakan itu?”, “Apa orang lain membenci saya?”, atau “Mengapa saya tidak bisa lebih baik?”

Pola pikir seperti ini membuat otak terus aktif memproses emosi negatif tanpa memberikan ruang untuk ketenangan.

Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya rumination. Salah satunya adalah keinginan berlebihan untuk memahami atau menyelesaikan masalah secara sempurna.

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER