MATAJAMBI.COM - Tidur cukup sering disebut sebagai kunci menjaga kesehatan tubuh. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tidur terlalu lama juga tidak selalu baik. Sama seperti kurang tidur, durasi tidur yang berlebihan disebut berkaitan dengan percepatan penuaan biologis.
Temuan ini menjadi perhatian karena banyak orang selama ini hanya mengkhawatirkan dampak kurang tidur. Padahal, menurut penelitian tersebut, tubuh juga dapat menunjukkan tanda penuaan lebih cepat ketika seseorang terlalu sering tidur lebih dari kebutuhan idealnya.
Dalam studi besar yang dipublikasikan di jurnal Nature, para peneliti menemukan bahwa durasi tidur memiliki hubungan dengan penuaan biologis. Penuaan biologis merupakan gambaran usia tubuh pada tingkat sel dan sering dianggap dapat memberi informasi lebih luas tentang kondisi kesehatan dibanding usia berdasarkan tanggal lahir.
Peneliti menyebut durasi tidur sekitar 6,4 jam hingga 7,8 jam per malam berkaitan dengan laju penuaan biologis yang lebih lambat. Artinya, tidur dalam rentang tersebut dinilai lebih mendukung kesehatan tubuh dibandingkan tidur terlalu sedikit atau terlalu lama.
Selama ini, kurang tidur telah lama dikaitkan dengan berbagai risiko penyakit. Mulai dari penyakit jantung, diabetes, gangguan daya ingat, hingga penurunan kesehatan otak. Namun, studi terbaru ini menyoroti bahwa tidur berlebihan juga perlu mendapat perhatian.
“Kami sudah tahu cukup lama bahwa tidur yang buruk berkaitan dengan penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, diabetes, dan demensia,” ujar Yue Leng, PhD, penulis studi sekaligus profesor psikiatri di UCSF Weill Institute for Neurosciences.
Menurut Leng, penelitian ini menjadi penting karena melihat pola tidur dan penuaan biologis secara lebih luas. Studi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara durasi tidur dan penuaan biologis membentuk pola seperti huruf U. Artinya, tidur terlalu sedikit maupun terlalu banyak sama-sama berkaitan dengan penuaan tubuh yang lebih cepat.“Tetapi penelitian ini adalah yang pertama menunjukkan, dalam satu analisis, bahwa durasi tidur memiliki hubungan berbentuk U yang konsisten dengan penuaan biologis di seluruh tubuh,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan kesimpulan tersebut, para peneliti menganalisis data kesehatan lebih dari 500.000 orang yang terdaftar dalam UK Biobank. Basis data biomedis berskala besar itu digunakan untuk melihat hubungan antara kebiasaan tidur dan usia biologis berbagai organ tubuh.
Peneliti menggunakan 23 jam epigenetik, yakni algoritma yang dapat memperkirakan usia biologis berdasarkan berbagai data kesehatan. Data tersebut mencakup pencitraan organ, protein darah, metabolit, dan sejumlah indikator lain yang berhubungan dengan kondisi tubuh.
Melalui metode itu, peneliti menilai usia biologis 17 organ, termasuk otak, jantung, dan paru-paru. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan durasi tidur yang dilaporkan oleh para peserta.
Dari analisis tersebut, muncul pola yang cukup jelas. Orang yang tidur kurang dari enam jam per malam atau lebih dari delapan jam per malam cenderung menunjukkan tanda penuaan biologis yang lebih cepat.