Ia juga menyarankan untuk menghindari alkohol dan layar gawai menjelang tidur. Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.Selain itu, paparan cahaya terang pada pagi hari dapat membantu mengatur jam sirkadian tubuh. Kebiasaan ini dapat membuat tubuh lebih mudah mengantuk pada malam hari dan lebih segar saat bangun pagi.
Lingkungan kamar tidur juga berperan penting. Kamar yang sejuk, gelap, dan tenang dapat membantu tubuh masuk ke fase tidur yang lebih berkualitas.
Gangguan tidur juga tidak boleh diabaikan. Jika seseorang sering mendengkur keras, mengalami jeda napas saat tidur, terbangun dengan napas terengah-engah, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur lama, kondisi tersebut perlu diperiksakan ke dokter.
“Sleep apnea sangat umum, sering tidak terdiagnosis, dan secara independen dapat mempercepat penuaan kardiovaskular dan otak,” ujar Leng.Para ahli juga menyarankan masyarakat untuk memperhatikan perubahan pola tidur yang terjadi secara tiba-tiba. Jika seseorang mulai tidur jauh lebih sedikit atau jauh lebih lama dari biasanya tanpa alasan yang jelas, perubahan tersebut sebaiknya dicatat dan dikonsultasikan dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, tidur yang sehat bukan sekadar soal berapa lama seseorang berada di tempat tidur. Durasi, kualitas, konsistensi, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan sama-sama berperan dalam menjaga tubuh tetap bugar.
Temuan studi ini menjadi pengingat bahwa tidur ideal tidak selalu berarti tidur selama mungkin. Bagi banyak orang dewasa, menjaga tidur dalam rentang yang cukup, berkualitas, dan teratur dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu memperlambat penuaan biologis serta menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.