Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas berlebihan dapat memicu refluks asam lambung pada malam hari, yang berisiko menimbulkan gangguan tidur dan rasa tidak nyaman di tenggorokan saat bangun pagi.Efek buruk makanan pedas biasanya lebih terasa pada orang yang memiliki riwayat gangguan lambung kronis, tukak lambung, atau penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Pada kondisi tersebut, makanan pedas dapat memperparah peradangan dan meningkatkan risiko komplikasi.
Ibu hamil dan anak-anak juga cenderung memiliki sistem pencernaan yang lebih sensitif sehingga lebih mudah mengalami keluhan seperti mual, muntah, mulas, atau diare setelah mengonsumsi makanan pedas.
Makanan pedas sebenarnya tetap dapat dinikmati selama dikonsumsi dalam batas wajar. Untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan, sebaiknya makanan pedas dikonsumsi bersamaan dengan makanan bergizi dan berserat, seperti sayuran dan buah-buahan.Minum air putih yang cukup, menghindari makan pedas saat perut kosong, serta menjaga pola makan teratur juga dapat membantu mengurangi dampak negatif makanan pedas terhadap sistem pencernaan.
Selain itu, memperhatikan reaksi tubuh setelah mengonsumsi makanan pedas menjadi langkah penting untuk mengetahui batas toleransi masing-masing individu.
Makanan pedas memang dapat meningkatkan selera makan dan memberikan sensasi rasa yang nikmat. Namun, konsumsi berlebihan berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pencernaan. Dengan mengonsumsi makanan pedas secara bijak dan seimbang, risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan sehingga tubuh tetap sehat dan nyaman.