OPINI

Ketika Wajah Kota Menguji Nurani Politik Lingkungan

0

0

matajambi |

Minggu, 08 Feb 2026 21:03 WIB

Reporter : Jay

Editor : Jay

Gandhi Wira Azani

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

Pada titik inilah, kondisi Pusat Kota Sungai Penuh menjadi cermin yang jujur sekaligus sunyi. Pusat kota, yang secara filosofis merupakan simbol keteraturan dan identitas kolektif, semestinya menjadi etalase etika pemerintahan. Namun ketika ruang ini menampakkan degradasi melalui persoalan kebersihan, kenyamanan, dan pengelolaan yang terbaca bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan ketidakhadiran nilai lingkungan dalam hirarki prioritas kebijakan.

Pusat kota bukan hanya titik koordinat di peta, melainkan wajah simbolik sebuah pemerintahan. Ia adalah barometer yang tanpa suara mengukur sejauh mana negara hadir dalam kehidupan warganya. Ketika ruang paling representatif dari sebuah kota kehilangan martabatnya, pesan yang sampai kepada publik sangat jelas: keberlanjutan belum sungguh-sungguh menjadi orientasi bersama.

Kesadaran kritis warga terhadap kondisi ini tidak selayaknya dipahami sebagai keluhan emosional atau suara individual yang terpisah. Ia adalah artikulasi etika publik sebuah suara nurani kolektif yang mengingatkan bahwa lingkungan hidup tidak boleh terus-menerus diperlakukan sebagai agenda tambahan. Stagnasi dalam penataan pusat kota mencerminkan rapuhnya komitmen menjadikan lingkungan sebagai poros strategis dalam praksis pemerintahan.

Persoalan Sampah di Kota Sungai Penuh mengajarkan satu pelajaran penting: politik lingkungan tidak selalu hadir dalam wujud isu-isu raksasa seperti deforestasi masif atau bencana ekologis berskala nasional. 

Politik lingkungan justru paling nyata dalam hal-hal yang dekat dengan keseharian pada kebersihan lapangan kota, pada kenyamanan warga bernafas dan beraktivitas, serta pada sikap hormat terhadap ruang bersama. Di sanalah politik lingkungan menemukan wujudnya yang paling manusiawi.

Pada akhirnya, politik lingkungan adalah soal keberanian berpihak. Berpihak pada keberlanjutan, pada kualitas hidup, dan pada masa depan yang belum mampu bersuara. 

Ia menuntut negara untuk memikul tanggung jawab moral dalam setiap kebijakan, sekaligus menuntut kedewasaan masyarakat untuk merawat ruang hidup bersama. Sebab apa yang kita lakukan terhadap lingkungan hari ini akan menjadi warisan yang tak terelakkan bagi generasi esok. Dan sebagaimana diingatkan kearifan lama, apa yang dicencang oleh tangan manusia, pada waktunya akan dipikul oleh bahu kemanusiaan itu sendiri.

 

Sumber :

1 2

# TAGS

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


Jay

0

0

OPINI

Minggu, 08 Feb 2026 21:03 WIB

BERITA POPULER