Penulis: Indi Hajian Pahira
Tabita Triyani Sembiring
Sherly Gusmai Linda
Bayangkan seorang guru menegur siswa yang ribut di kelas. Dulu, teguran keras atau hukuman fisik ringan mungkin langsung diterima tanpa pertanyaan.
Sekarang? Belum selesai guru bicara, siswa sudah siap mendebat, bahkan merekam dan mengunggahnya ke media sosial. Generasi sekarang tumbuh dengan kebebasan berpendapat yang jauh lebih besar dari generasi mana pun sebelumnya, tentunya itu bukan sesuatu yang buruk. Tapi hal itu menciptakan dilema baru di ruang kelas, penerapan hukuman menjadi serba salah.
Jika terlalu keras, guru dicap melanggar hak anak. Terlalu lunak, disiplin kelas ambruk. Lalu muncul pertanyaan, kalau hukuman sudah begitu rawan kontroversi, apakah kita masih membutuhkannya sama sekali? Dan kalau iya, hukuman seperti apa yang sebenarnya bekerja secara ilmiah?
Hukuman Bukan Sekadar Rasa Sakit
Dalam psikologi belajar, hukuman bukan sekadar soal membuat siswa menderita agar jera. Hukuman adalah konsekuensi yang diberikan setelah sebuah perilaku muncul, dengan tujuan menekan atau menghilangkan perilaku tersebut di masa depan. Kuncinya ada di sana, hukuman harus punya korelasi langsung dengan perilaku yang ingin diubah.
Mekanisme dasarnya berakar pada teori operant conditioning. Setiap perilaku yang diikuti konsekuensi tidak menyenangkan cenderung tidak akan diulang, setidaknya begitu teorinya. Tapi Skinner, tokoh utama di balik teori ini, justru mewanti-wanti, hukuman itu sulit dilakukan dengan benar, dan hampir selalu lebih mudah gagalnya (Islamuddin, 2012).Agar efektif, hukuman harus memenuhi beberapa syarat utama. Pertama, hukuman harus bersifat proporsional dan edukatif, setara dengan kesalahan yang dilakukan dan bersifat membangun, serta menghindari hukuman fisik seperti mencubit atau memukul. Kedua, hukuman diberikan setelah siswa mendapat peringatan sebelumnya dan disertai penjelasan alasan yang jelas agar siswa memahami kaitannya dengan kesalahan. Ketiga, hukuman harus adil dan konsisten, berlaku untuk semua siswa tanpa pandang bulu dan tidak diberikan dalam keadaan emosi.
Keempat, hukuman sebaiknya diberikan segera setelah pelanggaran terjadi agar siswa dapat mengaitkan konsekuensi dengan perilakunya. Kelima, hukuman harus menjaga martabat siswa, diberikan sedapat mungkin secara privat dan tidak mempermalukan siswa di depan umum (Wade, Tavris, & Garry, 2014). Tanpa kelima syarat ini terpenuhi, hukuman hanya menjadi rasa sakit yang lewat begitu saja dan tidak mengubah apa pun.
Positive Punishment dan Negative Punishment
Dari mekanisme itulah, Skinner membedakan hukuman menjadi dua bentuk yang punya cara kerja dan dampak psikologis yang sangat berbeda.
Positive Punishment bekerja dengan cara menambahkan stimulus tidak menyenangkan setelah sebuah perilaku muncul. Contohnya: teguran keras di depan kelas, hukuman fisik, push-up, atau skorsing. Kata "positif" di sini bukan berarti baik, melainkan berarti sesuatu ditambahkan. Stimulus baru dihadirkan sebagai respons atas perilaku yang tidak diinginkan. Negative Punishment sebaliknya, bekerja dengan mencabut sesuatu yang menyenangkan. Larangan ikut kegiatan, pengurangan nilai, dicabutnya hak istirahat, atau tidak boleh bermain gadget. Kata "negatif" berarti sesuatu dihilangkan. Tidak ada rasa sakit fisik yang ditambahkan, yang ada adalah kehilangan privilege.
Keduanya punya tujuan yang sama, yaitu menekan perilaku. Tapi cara kerja dan dampak jangka panjangnya sangat berbeda. Positive punishment yang melibatkan fisik atau mempermalukan anak secara publik berisiko memunculkan respons emosional seperti ketakutan, kebencian pada sekolah, atau perilaku menghindar. Negative punishment yang terukur dan dikomunikasikan dengan jelas cenderung lebih aman secara psikologis, asalkan anak memahami alasannya (Islamuddin, 2012).