OPINI

Hukuman di Sekolah: Mendidik atau Melukai?

0

0

matajambi |

Kamis, 11 Jun 2026 15:57 WIB

Reporter : Adri

Editor : Adri

Guru Memarahi Murid Di Kelas - (ist)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung
Seberapa Efektif Hukuman di Kelas Zaman Sekarang?

Secara teori, hukuman bisa bekerja. Tapi kelas bukan laboratorium. Dan disinilah masalahnya mulai bertumpuk.

Satu guru menangani tiga puluh lebih siswa. Konsistensi yang merupakan syarat utama efektivitas hukuman sangat sulit untuk terjaga. Hari ini Budi dihukum karena ribut, besok Andi melakukan hal yang sama tapi guru sedang lelah dan membiarkannya. Ketidakkonsistenan ini, menurut Skinner, justru memperkuat perilaku yang ingin dihilangkan, karena siswa belajar bahwa perilaku buruk kadang lolos dan itu adalah pola reinforcement yang justru membuat perilaku semakin sulit dihilangkan (Wade, Tavris, & Garry, 2014).

Masalah kedua adalah penundaan. Hukuman yang diberikan berjam-jam atau berhari-hari setelah perilaku terjadi kehilangan sebagian besar efektivitasnya. Di sekolah, proses ini sering kali panjang, laporan ke wali kelas, panggilan orang tua, sidang guru BK sementara perilaku yang ingin diubah sudah terjadi berkali-kali lagi.

Masalah ketiga adalah yang paling krusial di era sekarang adalah hukuman fisik. Sebuah tinjauan dua dekade penelitian menemukan bahwa meskipun hukuman fisik mungkin menghentikan perilaku buruk untuk jangka pendek, ia berbalik menjadi bumerang dalam jangka panjang. Anak-anak yang dihukum secara fisik cenderung menjadi lebih agresif dan antisosial seiring waktu, serta mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif. Tidak ada satu pun penelitian yang menetapkan hubungan antara hukuman fisik dan hasil yang positif (Wade, Tavris, & Garry, 2014).

Kenyataan ini terasa sangat nyata ketika kita melihat kasus Rindu Syahputra Sinaga (14), siswa SMPN 1 STM Hilir, Deli Serdang, yang meninggal dunia diduga akibat kelelahan setelah dihukum squat jump 100 kali oleh guru agamanya pada September 2024 lalu. Hukuman itu diberikan karena Rindu gagal menghafal Alkitab. Sebuah tugas kognitif yang direspons dengan beban fisik berat yang tidak memiliki korelasi apapun dengan perilaku yang ingin diubah, tidak ada instruksi tentang cara menghafal yang benar, tidak ada panduan perilaku pengganti. Yang ada hanya rasa sakit, yang dalam kasus Rindu, rasa sakit itu tidak bisa ditarik kembali.

Guru yang bersangkutan mungkin tidak pernah berniat menyakiti muridnya. Tapi niat baik tanpa pemahaman adalah kombinasi yang berbahaya. Hukuman yang diberikan tanpa memenuhi syarat korelasi, konsistensi, dan panduan perilaku pengganti bukan hanya tidak efektif secara ilmiah justru berpotensi merusak.

Jadi, Masih Perlukah Hukuman?

Menganggap semua hukuman pasti membuat anak trauma adalah cara berpikir yang terlalu menyederhanakan masalah. Negative punishment yang terukur dengan mencabut hak istirahat, menunda kegiatan yang disukai, atau mengurangi poin tetap sah digunakan, asalkan dikomunikasikan dengan jelas, masuk akal, dan diikuti dengan informasi tentang perilaku yang diharapkan.

Skinner sendiri tidak mengatakan hukuman selalu salah. Ia hanya mengatakan bahwa reinforcement positif berupa pujian, pengakuan, penghargaan atas perilaku yang baik jauh lebih efektif untuk perubahan perilaku jangka panjang, karena ia memberi tahu anak apa yang harus dilakukan, bukan sekadar melarang apa yang tidak boleh (Islamuddin, 2012). Penelitian program sekolah juga membuktikan bahwa kekerasan di sekolah berhasil dikurangi bukan dengan memperketat hukuman, melainkan dengan mengajarkan keterampilan memecahkan masalah, pengendalian emosi, dan memberikan penghargaan atas perilaku positif (Wade, Tavris, & Garry, 2014).

Di era dimana murid semakin berani bersuara dan setiap kejadian di kelas bisa viral dalam hitungan menit, guru tidak lagi punya kemewahan untuk memberikan hukuman tanpa dasar yang jelas. Ini bukan kelemahan ini adalah kesempatan untuk kembali ke pertanyaan yang seharusnya selalu jadi fondasi pendidikan: apakah yang kita lakukan ini benar-benar membentuk manusia yang lebih baik, atau hanya memenuhi kebutuhan kita sendiri untuk merasa telah bertindak baik?

Konsekuensi yang kita berikan hari ini adalah karakter yang kita tanam untuk masa depan mereka. Atau dalam kisah tragis Rindu, masa depan yang sayangnya sudah terenggut terlalu cepat.

Sumber :

1 2 3

# TAGS

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


Adri

0

0

OPINI

Kamis, 11 Jun 2026 15:57 WIB

BERITA POPULER