Kecanduan scrolling media sosial juga menjadi kebiasaan modern yang diam-diam melelahkan mental. Banyak orang merasa bersantai saat menonton video singkat atau membaca linimasa, padahal otak tetap bekerja keras memproses rangsangan visual dan emosional.
Paparan cahaya biru dari layar membuat sistem saraf sulit memasuki fase istirahat, terutama jika dilakukan menjelang tidur. Memberi jeda digital sebelum tidur dan menggantinya dengan aktivitas sederhana seperti membaca buku fisik, menulis jurnal, atau mendengarkan musik terbukti membantu kualitas tidur dan kestabilan emosi.
Selain itu, multitasking sering dianggap sebagai simbol produktivitas, padahal secara psikologis justru membebani otak. Berpindah fokus secara cepat membuat pikiran sulit menyelesaikan satu tugas dengan tuntas.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini meningkatkan stres, mempercepat kelelahan mental, dan membuat seseorang lebih mudah merasa kewalahan. Fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu justru membantu otak bekerja lebih efisien dan tenang.
Menariknya, menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, paparan sinar matahari pagi, aktivitas fisik ringan, hingga membangun batasan sehat dengan pekerjaan dan media sosial memiliki dampak signifikan bagi kestabilan emosi. Sejumlah media gaya hidup kesehatan seperti Real Simple juga menekankan bahwa kesehatan mental dibangun dari rutinitas kecil yang konsisten, bukan dari solusi instan.
Pada akhirnya, kesehatan mental adalah hasil dari pilihan-pilihan harian yang sering kali luput dari perhatian. Dengan mulai mengenali kebiasaan yang melelahkan pikiran dan menggantinya dengan pola hidup yang lebih seimbang, seseorang tidak hanya menjaga ketenangan batin, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Langkah kecil yang dilakukan hari ini bisa menjadi fondasi kesehatan mental yang jauh lebih kuat di masa depan.