MATAJAMBI.COM - Di era serba cepat seperti sekarang, menjaga kesehatan mental bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama yang sama pentingnya dengan merawat tubuh.
Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, hingga paparan informasi tanpa henti membuat banyak orang hidup dalam kondisi lelah secara emosional tanpa benar-benar menyadarinya. Lebih berbahaya lagi, sumber kelelahan mental ini sering kali bukan berasal dari masalah besar, melainkan dari kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele namun terus berulang.
Tanpa disadari, pola hidup yang tidak ramah bagi kesehatan mental dapat membuat pikiran terasa penuh, mudah cemas, sulit fokus, bahkan kehilangan motivasi.
Jika kondisi ini berlangsung lama, kualitas hidup dan produktivitas pun ikut menurun. Oleh karena itu, mengenali kebiasaan yang diam-diam menguras energi emosional menjadi langkah awal yang sangat penting.
Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan adalah memaksa diri untuk merasa tenang. Banyak orang berpikir bahwa ketika stres datang, mereka harus segera “baik-baik saja”. Padahal, dorongan untuk cepat merasa rileks justru bisa menambah tekanan baru.
Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk memproses emosi. Psikolog klinis Liz Ross menjelaskan bahwa upaya berlebihan untuk mengendalikan perasaan dapat membuat respons stres berputar tanpa henti.
Pendekatan yang lebih sehat adalah memberi ruang bagi emosi untuk hadir, lalu menenangkannya secara perlahan melalui napas sadar, gerakan ringan, atau sekadar berhenti sejenak dari aktivitas.Kebiasaan lain yang kerap merusak keseimbangan mental adalah terlalu keras pada diri sendiri. Banyak orang tidak menyadari bahwa suara batin yang terus mengkritik dapat menjadi sumber stres yang besar.
Mengoreksi diri memang penting, namun jika dilakukan dengan nada menyalahkan, dampaknya justru menurunkan kepercayaan diri dan memperkuat rasa cemas.
Mengganti kritik dengan sikap lebih berbelas kasih terhadap diri sendiri terbukti membantu menjaga kesehatan mental. Penelitian psikologi modern bahkan menunjukkan bahwa self-compassion berperan besar dalam meningkatkan ketahanan emosional.
Pelarian ke makanan juga sering menjadi respons saat stres melanda. Comfort food memang memberi rasa nyaman sesaat, tetapi jika dikonsumsi berlebihan, efeknya bisa berbalik arah. Psikoterapis Madhuri Jha mengungkapkan bahwa makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan kafein dapat memengaruhi hormon stres seperti kortisol.
Alih-alih menenangkan, pola makan ini justru membuat suasana hati lebih tidak stabil. Menariknya, asupan makanan bergizi seperti protein seimbang, serat, dan lemak sehat justru berkontribusi positif terhadap kesehatan otak dan emosi, sesuatu yang jarang disadari banyak orang.