MATAJAMBI.COM - Konsumsi gula tambahan setiap hari tidak hanya berdampak pada gula darah. Dalam jangka panjang, kebiasaan makan dan minum terlalu manis juga dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak di hati.
Makanan dan minuman manis sudah menjadi bagian dari kebiasaan banyak orang. Kopi susu kekinian, teh manis, soda, kue, biskuit, sereal sarapan, minuman energi, hingga berbagai camilan kemasan sering dikonsumsi tanpa disadari jumlah gulanya cukup tinggi.
Padahal, terlalu banyak gula tambahan tidak hanya berpengaruh pada berat badan atau kadar gula darah. Kebiasaan ini juga bisa membebani kerja hati, terutama jika dilakukan setiap hari dalam jangka panjang.
Hati merupakan salah satu organ paling penting dalam tubuh. Organ ini membantu memproses nutrisi, mengatur kadar gula darah, memecah lemak, dan membantu tubuh membuang zat yang tidak lagi dibutuhkan. Ketika asupan gula tambahan terlalu tinggi, hati harus bekerja lebih keras untuk mengolah kelebihan gula tersebut.
Jika gula yang masuk ke tubuh melebihi kebutuhan energi, sebagian gula dapat diubah menjadi lemak. Lemak ini kemudian bisa menumpuk di hati. Jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit hati berlemak.
Tubuh memang membutuhkan gula sebagai sumber energi. Namun, masalah muncul ketika gula tambahan dikonsumsi terlalu banyak dan terlalu sering.
Gula tambahan berbeda dengan gula alami yang terdapat dalam buah utuh. Buah mengandung serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang membantu tubuh mencernanya lebih perlahan. Sementara itu, gula tambahan biasanya lebih cepat diserap tubuh, terutama jika berasal dari minuman manis dan makanan ultra-olahan.Saat tubuh menerima gula dalam jumlah besar dalam waktu singkat, kadar gula darah dapat meningkat dengan cepat. Hati kemudian ikut berperan dalam mengolah kelebihan gula tersebut. Jika kelebihannya terus terjadi, sebagian gula dapat diubah menjadi lemak.
Dalam jangka panjang, penumpukan lemak di hati bisa mengganggu fungsi organ tersebut. Kondisi ini sering dikaitkan dengan penyakit hati berlemak, terutama pada orang yang juga memiliki faktor risiko seperti obesitas, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, atau trigliserida tinggi.
Salah satu jenis gula yang sering menjadi perhatian adalah fruktosa. Jenis gula ini banyak ditemukan dalam gula meja, sirup jagung tinggi fruktosa, minuman manis, makanan kemasan, dan berbagai produk ultra-olahan.
Fruktosa diproses tubuh dengan cara berbeda dari glukosa. Glukosa dapat digunakan oleh banyak sel tubuh sebagai energi, sedangkan fruktosa lebih banyak diproses di hati. Ketika jumlah fruktosa yang masuk terlalu besar, hati dapat mengubahnya menjadi lemak.
Hal inilah yang membuat konsumsi gula tambahan berlebihan sering dikaitkan dengan peningkatan risiko penumpukan lemak di hati. Meski begitu, bukan berarti buah harus dihindari. Buah utuh tetap lebih baik karena mengandung serat dan nutrisi penting. Yang lebih perlu dibatasi adalah gula tambahan dari minuman manis, sirup, makanan kemasan, dan produk tinggi gula.