Dalam salah satu video yang viral, Agus terlihat memegang benda tajam. Hal ini memicu spekulasi publik. Namun Agus menegaskan bahwa alat tersebut adalah perlengkapan praktik sekolah berbasis pertanian yang memang tersedia di kantor.Ia menyebut benda itu hanya digunakan sebagai upaya untuk membuat siswa menjauh dan menghentikan kerumunan, bukan untuk melukai siapa pun.
Kasus ini memunculkan diskusi luas tentang krisis disiplin dan keamanan di sekolah kejuruan, terutama di daerah.
Beberapa pengamat pendidikan di Jambi menilai bahwa sekolah dengan latar sosial-ekonomi beragam membutuhkan pendekatan pembinaan karakter yang lebih kuat serta sistem perlindungan guru yang lebih tegas.
Data dari sejumlah lembaga pendidikan menunjukkan bahwa kekerasan verbal terhadap guru meningkat dalam lima tahun terakhir, namun banyak kasus tidak dilaporkan karena guru takut dianggap tidak mampu mengelola kelas.
Meski menjadi korban kekerasan, Agus memilih tidak langsung melapor ke aparat penegak hukum.Ia mengajukan pengaduan resmi ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, dengan harapan masalah ini bisa diselesaikan melalui mekanisme pembinaan, bukan sekadar hukuman.
Baginya, para pelaku tetaplah anak didik yang masih membutuhkan arahan dan pendampingan.
Pihak SMKN 3 Berbak dan instansi terkait kini berada di bawah tekanan publik untuk bertindak transparan.
Investigasi internal disebut sedang berjalan, sementara Dinas Pendidikan diminta memastikan bahwa lingkungan sekolah kembali aman bagi guru maupun siswa.
Kasus ini bukan hanya tentang satu guru dan sekelompok murid, tetapi tentang masa depan wibawa pendidikan di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.