MATAJAMBI.COM - Tidak semua senyum berarti tulus, dan tidak semua keramahan lahir dari niat baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang pernah bertemu sosok yang tampak hangat, ramah, dan mudah disukai.
Namun di balik itu, sering muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Perasaan tersebut biasanya bukan tanpa alasan.
Dalam psikologi sosial, perilaku ini dikenal sebagai false niceness atau kebaikan semu.
Seseorang tampak peduli, suportif, dan penuh empati di permukaan, tetapi sebenarnya digerakkan oleh kepentingan pribadi, pencitraan, atau keinginan untuk mengendalikan persepsi orang lain.
Orang dengan kebaikan palsu sangat mahir memainkan kata-kata, bahasa tubuh, dan sikap agar terlihat positif di mata publik. Namun jika diamati lebih dalam, ada pola perilaku yang kerap muncul.
Salah satu tanda paling umum dari kebaikan palsu adalah perilaku yang berubah tergantung situasi. Mereka cenderung tampil penuh perhatian ketika berada di depan banyak orang, di kantor, di lingkungan sosial, atau di media sosial. Namun ketika tidak ada yang memperhatikan, sikap itu menghilang.
Dalam hubungan kerja atau pertemanan, mereka mungkin terlihat sangat membantu, tetapi hanya saat ada saksi atau ketika ingin membangun reputasi.
Begitu tidak ada keuntungan sosial, sikapnya berubah menjadi dingin, cuek, atau bahkan tidak peduli.
Sebaliknya, orang yang benar-benar tulus menunjukkan empati tanpa peduli apakah tindakannya disorot atau tidak.Bagi mereka, berbuat baik bukan soal citra, melainkan nilai hidup.
Kebaikan palsu sering dibungkus dalam bentuk pujian yang terdengar manis, tetapi menyimpan makna merendahkan. Ini dikenal dalam psikologi sebagai backhanded compliment, yaitu pujian yang sebenarnya berisi kritik atau sindiran.